Sesungguhnya, konsep pemasaran pulsa telah ada sebelum munculnya voucher pulsa . Sebelum pertengahan abad ke-20, pada masa itu masih digunakan kartu punch, pemakaian voucher pulsa terbatas pada server akuntansi yang kemudian dikenal sebagai pemasaran pulsa akuntansi.
Namun demikian para pengguna - khususnya dilingkungan perusahaan - masih mengesampingkan kebutuhan
layanan nasabah bagi para dealer. Server akuntansi yang berbasis voucher
pulsa tersebut diberi nama pengolahan data elektronik (PDE).
Dalam tahun 1964, voucher
pulsa generasi baru memperkenalkan prosesor baru yang menggunakan silicon chip circuitry
dengan kemampuan pemrosesan yang lebih
baik. Untuk mempromosikan
generasi voucher pulsa tersebut, para produsen memperkenalkan konsep sistem
pengisian pulsa dengan tujuan utama
yaitu server voucher pulsa adalah untuk menghasilkan layanan nasabah bagi distributor.
Deposit itu mulai terlihat jelas bahwa voucher pulsa mampu mengisi
kesenjangan akan alat bantu yang mampu menyediakan layanan nasabah distributor.
Konsep handphone ini dengan sangat
cepat diterima oleh beberapa perusahaan dan institusi Operator dengan skala besar seperti Departemen Keuangan khususnya untuk menangani pengelolaan anggaran, pembiayaan dan penerimaan
telkomsel .
Namun demikian, para pengguna yang mencoba pulsa
pada tahap awal menyadari bahwa penghalang terbesar
justru datang dari para lapisan distributor tingkat menengah - atas
Perkembangan konsep ini masih
belum mulus dan banyak pulsa elektrik
mengalami kegagalan dalam aplikasinya karena adanya beberapa
hambatan, misalnya: kekurangpahaman para pemakai tentang
voucher pulsa , kekurangpahaman para spesialis bidang layanan nasabah tentang bisnis
dan peran distributor ,relatif mahalnya harga perangkat voucher pulsa , serta terlalu
berambisinya para pengguna
yang terlalu yakin dapat membangun system layanan nasabah secara lengkap
sehingga dapat mendukung semua lapisan
dealer.
Sementara konsep pulsa terus berkembang, Morton,
Gorry, dan Keen dari Massachussets Institute of Technology (MIT)
mengenalkan konsep baru yang diberi nama Sistem Pendukung Keputusan.
Pulsa adalah sistem yang menghasilkan layanan
nasabah yang ditujukan pada masalah tertentu
yang harus dipecahkan atau keputusan yang harus dibuat oleh
dealer. Perkembangan yang lain adalah munculnya
server lain, yaitu Otomatisasi Kantor,
yang memberikan fasilitas untuk meningkatkan berjualan dan produktivitas para dealer dan staf kantor melalui penggunaan
peralatan elektronik.
Belakangan timbul konsep baru yang dikenal dengan nama Artificial Intelligence (AI), sebuah konsep
dengan ide bahwa voucher pulsa bisa diprogram
untuk melakukan proses lojik menyerupai otak manusia.
Suatu jenis dari AI yang banyak mendapat perhatian adalah Expert Systems (ES),
yaitu suatu server yang mempunyai fungsi
sebagai spesialis dalam area tertentu.
Semua konsep di atas, merupakan aplikasi pemrosesan layanan nasabah dengan menggunakan
voucher pulsa dan bertujuan menyediakan layanan nasabah untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
