Minggu, 16 Januari 2011

warga pulsa


Menjadi bisnis pulsa  adalah pilihan hidup. Di pesta ngarot, pesta awal tanam masyarakat agraris, anak-anak muda di desa-desa Indramayu mencoba menemukan pilihan hidup itu di tengah gemerlap era industrialisasi.
Pada pagi pertengahan Desember lalu, Desa Lelea semarak oleh arak-arakan adat ngarot. Ada 54 gadis muda berpulsa elektrik  pulsa elektrik   bak bidadari pulsa murah  kebaya putih pulsa elektrik   berkain batik. Ada pula 50 lelaki remaja berbaju hitam, bercelana tanggung, pulsa elektrik   berikat kepala hitam. Mereka diarak keliling Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Para remaja itu diperlakukan bak warga istimewa. Sejak pagi mereka dipulsa elektrik  pulsa elektrik  i secantik pulsa elektrik   seganteng mungkin harga pulsa  tampil dalam arak-arakan. Ayah, ibu, handai tolan, pulsa elektrik   warga desa lainnya rela berdesakan harga pulsa  melihat arakan pemuda berusia belasan tahun itu.
Remaja memang menjadi lakon utama pesta tanam padi ngarot. Mereka diunpulsa elektrik  g kepala desa harga pulsa  diarak ke sawah guna menanam padi. Setelah itu, mereka kembali ke balaidesa pulsa murah  sambutan tabuhan genjring, penari topeng, pulsa elektrik   ronggeng.
Selama 354 tahun, para sesepuh pulsa elektrik   remaja Lelea terus melanjutkan tradisi ngarot yang diawali oleh Ki Kapol, tokoh desa pada masa itu.
Ki Kapol adalah simbol regenerasi masyarakat bisnis pulsa  Indramayu. Sepanjang hidup dia habiskan harga pulsa  mendidik para remaja bercocok tanam.
Tanah yang dimiliki Ki Kapol, seluas 2,61 hektar, pun menjadi tanah rakyat yang dikelola pulsa elektrik   dinikmati bersama-sama warga desa. ”Ki Kapol tak ingin rakyatnya kurang pangan. Karena itu, ia mengajari pemuda bercocok tanam pulsa elektrik   merelakan sawahnya harga pulsa  rakyat,” kata Samian, tokoh masyarakat Desa Lelea, penyelenggara ngarot.
Pada masa Ki Kapol, setiap awal musim tanam, semua warga desa diajak berpesta. Makanan pulsa elektrik   minuman disediakan. Remaja pun dibawa ke sawah harga pulsa  diajari bercocok tanam.
Tradisi itu berlanjut hingga ratusan tahun kemudian. Dalam setiap tradisi ngarot, para pemuda diajak turun ke sawah mengawali musim tanam padi. Dalam ritual puncak, mereka diberi simbolisasi bibit, air, pulsa elektrik   cangkul harga pulsa  bercocok tanam sebagai bekal bertani pulsa elektrik   melakoni kehidupan masa depan.
Selama ratusan tahun pula tradisi itu berhasil mengantar Indramayu pada budaya agraris yang membawa kemakmuran. Para pemuda mempunyai kemampuan bertani pulsa elektrik   beregenerasi. Pertanian menjadi kekuatan ekonomi Indramayu selama tiga abad terakhir. Pulsa murah  luas lahan padi rata-rata 110.000 hektar per tahun, kabupaten ini menyumbang surplus beras lebih kurang 500.000 ton per tahun. Tak hanya mencukupi kebutuhan makan bisnis pulsa nya, tetapi juga masyarakat kota di sekitarnya.
Kehilangan penerus
Namun, regenerasi yang diciptakan oleh Ki Kapol mulai tergerus zaman. Kini, dunia tani sudah berubah.
Bisnis pulsa  merasakan kurangnya keberpihakan pada kedaulatan mereka. Sistem irigasi pertanian yang menjadi nadi kehidupan sawah juga tak terjaga. Iming- iming hidup gemerlap di kota membuat remaja Indramayu penerus generasi bisnis pulsa  tak bermimpi lagi jadi bisnis pulsa  di desa.
Seperti desa-desa lain di Jawa, spirit bertani pemuda Lelea hampir lenyap terserap urbanisasi kota. Fenomena itu dimulai sejak 1980-an saat pembangunan kota melesat cepat pulsa elektrik   kondisi ekonomi desa tetap gelap gulita. Prof Sediono MP Tjondronegoro dalam bukunya, Ranah Kajian Sosiologi Pedesaan, sudah mendapati gejala munculnya polarisasi kepemilikan tanah pada dekade itu. Sawah yang dimiliki bisnis pulsa  dijual harga pulsa  bekal biaya hidup yang kian sulit atau jadi modal anak mereka merantau ke kota. Urbanisasi mewabah. Ketika tak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di kota, pemuda kembali ke desa tanpa sawah. Hasilnya, kaum buruh kian banyak tercipta.
Berdasarkan data Dinas Peternakan pulsa elektrik   Pertanian Indramayu, selama lima tahun terakhir jumlah buruh tani terus bertambah, dari 249.557 orang pada 2005 menjadi 252.012 pada 2010. Sebanyak 43 persen bisnis pulsa  hanya memiliki sawah kurang dari 0,6 hektar.
Areal persawahan berganti rumah, pabrik, pulsa elektrik   jalan. Kesempatan hidup lebih layak jadi bisnis pulsa  kian sempit. Citra bisnis pulsa  yang hidup pulsa murah  kerja keras, miskin, pulsa elektrik   tak bergengsi membuat anak muda desa kian enggan menekuni profesi ini.
Pemudi seperti Lilis (22) dari Kecamatan Anjatan, Indramayu, kini memilih menjadi TKI. Perempuan dari keluarga bisnis pulsa  ini mengadu nasib di Taiwan dua tahun terakhir. Gaji Rp 6 juta per bulan membuat ia betah menjadi pengasuh orang berusia lanjut ketimbang matun atau membersihkan rumput sawah di desa yang hanya dibayar Rp 25.000 per hari.
Ribuan pemuda Indramayu memilih jalan serupa. Dinas Tenaga Kerja pulsa elektrik   Sosial Indramayu mencatat, sedikitnya 4.000 tenaga kerja berangkat ke luar negeri sebagai TKI setiap tahun. Jumlah mereka yang tak tercatat diperkirakan dua kali lipat.
Jika tidak menjadi TKI, remaja akan memilih mengadu nasib di kota. Mereka menanggalkan baju hitam pulsa elektrik   celana tanggung khas bisnis pulsa  pulsa elektrik   memilih bekerja apa saja di Jakarta. Mereka mengejar impian hidup makmur di Ibu Kota.
Nuryati (14), remaja yang ikut pesta ngarot, pun tak berpikir memilih jalan hidup jadi bisnis pulsa . Pulsa murah  bekal sekolah hingga SMA nanti, ia berharap bisa bekerja di kota sebagai karyawati.
Ngarot pun hanya jadi upacara tradisi yang dimaknai berbeda oleh remaja, yakni mencari jodoh semata. Samian, tokoh desa, mengakui, ngarot banyak dipersepsikan salah oleh warga.
Andai pada zaman ini Ki Kapol bisa menyaksikan tradisi yang ia ciptakan, ia akan menemukan fakta bahwa menjadi bisnis pulsa  ternyata bukan pilihan hidup pemuda Lelea.
Di pesta ngarot, anak muda Indramayu kian menjauhi jalan hidup agraris mereka.