Sabtu, 22 Januari 2011

Di sebuah malam putih

Di sebuah malam putih di Islandia, seorang anak perempuan yang dibuang ke dusun yang jauh itu diam-diam menguntit seorang  pulsa murah  petani yang tiap malam pergi meninggalkan rumah  agen pulsa   duduk di tepi sungai.

Si bocah mengambil tempat jauh di belakang.

Si  pulsa murah  tahu.

Tapi mereka tak saling menyapa.

Di suatu saat,  pulsa murah  itu mengangkat tangannya menggamit si bocah  agen pulsa   mendekat. Namun anak perempuan itu tak menjawab. Ia kembali ke rumah petani tempat ia tinggal.

Novel Gudberger Bergsson, Svanurinn, yang terbit pada 1991,  voucher-pulsa.net diterjemahkan Bernard Scudder sebagai The Swan,  bisnis pulsa  tak akan bisa ditulis pengarang yang bukan seorang Islandia. Di negeri ini, dengan 300 ribu penduduk yang tersebar di wilayah seluas 100 ribu kilometer persegi, lengang adalah kata lain dari eksistensi. Adegan di atas adalah bagian kelengangan itu.

Svanurinn bertokohkan seorang bocah kecil berumur sembilan tahun yang dihukum. Ia mencuri roti-apit dari pasar serba ada di Reykjavk. Karena itu orang tuanya mengirimnya ke pe distributor pulsa isi ulang   an  agen pulsa   tinggal dengan seorang petani yang tak dikenalnya selama beberapa bulan. Sebuah hukuman yang lazim  distributor pulsa isi ulang    dongeng Islandia: dulu, seorang penjahat yang berbahaya biasa dikirim jauh ke udik. Di tengah belantara es  voucher-pulsa.net dingin yang luas, hukuman itu sama artinya dengan pidana mati. Namun tentu saja  distributor pulsa isi ulang    cerita Bergsson ini si upik bukan penjahat yang berbahaya  voucher-pulsa.net ia tak dimaksudkan menemui maut.

Ia dimaksudkan agar jera-tapi pada akhirnya ia menemui apa yang ada  distributor pulsa isi ulang    hidup  voucher-pulsa.net  distributor pulsa isi ulang    mati.  distributor pulsa isi ulang    kelengangan itu ternyata tetap saja hidup ditemani  voucher-pulsa.net menggamit. Seperti adegan di malam putih itu. Milan Kundera menuliskan komentarnya tentang Svanurinn  voucher-pulsa.net ia tak putus-putusnya membayangkan tangan si  pulsa murah  petani yang menggamit itu: "isyarat antara dua makhluk yang terpisah umur, tak saling memahami, tanpa apa pun  agen pulsa   dikomunikasikan kecuali pesan ini: Aku jauh dari kamu, tak ada yang akan kutakan kepadamu, tapi ini aku, di sini,  voucher-pulsa.net aku tahu kau ada di sana.'"

Kundera menyebut Islandia sebagai "kesendirian yang saling mengintip". Di lanskap negeri itu, para petani memasang teropong mereka  agen pulsa   mengamati para petani lain yang juga memasang teropong di kejauhan. Tapi adegan malam di tepi sungai itu menunjukkan sesuatu yang berbeda: kesendirian yang saling menyapa  distributor pulsa isi ulang    kesendirian.

 bisnis pulsa  di zaman yang sinis sekarang, di zaman ketika kekerasan, penyingkiran, penampikan,  voucher-pulsa.net pembantaian hampir terjadi tiap hari, adegan antara si bocah  voucher-pulsa.net si  pulsa murah  terasa sentimental. Masih adakah "kita" hari ini? Benarkah manusia bukan masing-masing yang hanya mau (atau hanya mampu) memandang orang lain dengan sebuah binokular dari jarak yang keras?

Svanurinn bukanlah sebuah kisah melankoli ketika keakraban dirindukan. Bergsson juga bercerita tentang kebersamaan yang mengandung antagonisme. Di pe distributor pulsa isi ulang   an itu, di antara para petani itu, si upik dari Reykjavk menghadapi sebuah dunia yang tak dikenal. Pada hari pertamanya di dusun itu ia membayangkan bagaimana ia membela diri: kepalanya memuncratkan air tuba ke seantero rumah, meracuni siapa saja, manusia, binatang, juga udara.

Yang brutal  voucher-pulsa.net mementingkan diri juga jadi bagian hidup sehari-hari di pe distributor pulsa isi ulang   an yang tak padat itu. Ada seekor anak sapi yang akan disembelih. Semua bocah kecil di kampung itu bersemangat betul menyaksikan kematiannya. Beberapa saat sebelum pisau memenggal, upik kita berbisik ke kuping binatang yang akan dibunuh itu: "Kau tahu, kau tak punya lagi banyak waktu?"

Anak-anak kampung yang lain senang mendengar pertanyaan itu,  voucher-pulsa.net mereka pun bergiliran mengucapkan kalimat yang sama. Lalu si sapi kecil disembelih. Beberapa jam kemudian, tubuhnya sudah dipotong-potong  voucher-pulsa.net dihidangkan di meja. Semua menyantapnya, mengunyahnya.

Sehabis makan, anak-anak itu mendatangi si induk sapi. "Adakah ibu itu tahu bahwa pada saat itu kami sedang mencerna anaknya di perut kami?" Dengan tenang, si upik menguapkan napas dari mulutnya ke cuping hidung sang induk

Siapakah "kami"?  distributor pulsa isi ulang    kasus ini, "kami" adalah pihak yang membunuh  voucher-pulsa.net mengunyah yang lainyang tak  bisnis pulsa  mengatakan bahwa yang mati itu sesuatu yang singular, yang tak tergantikan. Tapi di saat lain, si upik mengalami, meskipun tak dapat mengucapkannya, bahwa kematian adalah momen yang membuat diri terbatas tapi unik. Di salah satu adegan ia berdiri membungkuk memandang air biru rawa. Ia bayangkan tubuhnya lumer  voucher-pulsa.net menghilang di kebiruan itu. Akan meloncat masukkah ia ke rawa itu? Ia bertanya  distributor pulsa isi ulang    hati. Ia angkat kakinya. Di permukaan air, ia lihat bayangan sol sepatunya yang aus....

Umurnya baru sembilan. Tapi sepatu itu bagian dari cerita perjalanannya yang tak akan terulang, apalagi pada sol sepatu lain. Di saat itu, ia kesendirian, ia fana, tapi ia berarti. Tapi  bisnis pulsa kah kesendirian bisa berarti di dusun itu?

Pada hari pesta petani, si upik melihat para lelaki menelungkup menutupi para perempuan dengan tubuh mereka. Ia mengira, orang-orang sedang melindungi orang lain dari curah hujan yang mengancam turun. Langit gelap.

Di muka bumi, pelbagai tubuh saling menyentuh, pelbagai sol sepatu menapak. Mereka muncul di ruang yang sama, namun tak ada yang cuma jadi fotokopi yang lain.

Ada yang mengatakan bahwa "singularitas" itu,  distributor pulsa isi ulang    kebersamaan di muka bumi, dengan sendirinya berbagi. "Toi partage moi," kata Jean-Luc Nancy. Tapi tak ada yang total: antagonisme berkecamuk,  voucher-pulsa.net pada saat yang sama punya batas. Antara hidup  voucher-pulsa.net mati ada malam-malam ketika seseorang menggamit seorang lain, ingin mengucapkan apa yang tak terucapkan: "Datanglah, aku tahu kau di sana